Selasa, 05 April 2016

05 April



Semester akhir kuliah, saya mengalami susah tidur alias insomnia. Saya baru bisa tidur biasanya sehabis solah subut dan harus berangkat ke kampus jam 7. Berbulan-bulan saya mengalami itu, tanpa pernah cerita sama siapa pun. Pada akhirnya saya pun drop, tapi beruntunglah karena itu terjadi pada saat libur kuliah. Berhari-hari saya terkungkung di kamar kos tanpa bisa berbuat apapun. Kepala saya sakit, sakit sekali sehingga untuk bergerak pun perlu perjuangan. Untuk ke kamar mandi pun saya harus merangkak. Saya tidak bisa menghubungi siapapun karena pulsa saya saat itu benar-benar habis. Tapi naluri seorang ibu memang tidak bisa dibatasi oleh jarak ataupun waktu. Sehabis subuh Mamah nelp dan mendengar saya nangis karena sakit yang tidak bisa ditahan, meskipun menyembunyikan kepanikannya saya tahu Mamah khawatir. Saat itu juga Mamah langsung berangkat ke Bandung dari Tasik, jam 9 Mamah sudah berada di kos. Melihat saya berhari-hari tidak makan, Mamah langsung menyuapi saya dengan bubur ayam yang dibelinya di Gerlong. Mamah mulai ngomel seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya karena melihat kondisi saya yang begitu. "Kenapa ga nelp Aki?" lah gimana mau nelp saya sama sekali tidak punya pulsa. Selesai makan saya langsung dibawa ke klinik An-Nur di Setiabudi untuk kemudian dibawa pulang ke Tasik.
Di Tasik Mamah membawa saya ke dokter langganannya. Dan saya dirujuk ke dokter spesialis saraf. Mamah tetap mendampingi saya bolak-balik ke dokter. Dokter bilang ada "sesuatu" di alam bawah sadar. Entahlah, saya tidak merasa apapun terjadi pada saya.
Berhari-hari saya cuma bisa tiduran di tempat tidur dengan posisi tengkurap karena apabila saya tidur seperti orang normal kepala saya tambah sakit. Keluarga, teman-teman bahkan guru-guru SD mulai datang untuk menjenguk. Dan Mamah disela-sela kesibukannya pulang dari pasar, harus masak untuk jualan tetap mengurus saya. Menyeka saya dengan air hangat, menyuapi saya makan bahkan menggendong saya ke kamar mandi. Tidak pernah saya mendengar Mamah mengeluh karena mengurus saya.
Berangsur-angsur kondisi saya membaik meskipun saya tetap kesulitan untuk tidur. Mamah mengantar kembali saya ke Bandung karena perkuliahan akan segera mulai.
Kalau ingat peristiwa itu saya sangat malu dan sedih. Karena sampai akhirnya Mamah "kembali" saya belum sempat mengurus Mamah. Bahkan detik-detik terakhirnya di dunia pun saya tidak ikut memandikannya.
Tiga tahun sudah Mamah pergi, tepat di tanggal ini tanggal yang tidak mungkin saya lupakan. Tanggal dimana hari itu bumi runtuh, dan segala pertahanan saya pun runtuh. Apa yang saya lakukan semata hanya untuk membuat Mamah bahagia, tapi ketika Mamah pergi saya tidak punya alasan lagi untuk bertahan. Tapi kenyataannya saya masih bertahan entah untuk tujuan apa.
Masih banyak sesal, masih banyak keinginan yang belum saya berikan untuk Mamah. Belum berhasil menorehkan senyum di wajahnya. Belum mengembalikan pendar mata yang lebih banyak diselimuti warna abu.
Mamah, yang tak pernah mengenal lelah untuk selalu membahagiakan orang lain meskipun dirinya harus kehilangan daging-daging ditubuhnya. Mamah yang tidak pernah meminta apapun tapi selalu meminta untuk orang lain.  Mamah, yang punggungnya tidak bisa saya lepaskan dari pandangan ketika Cipaganti membawanya berlalu.Mamah, pagi itu kita masih berbincang sebelum Mamah memutuskan telp karena harus membersihkan pemakaman keluarga.
Semesta telah membawa mu kembali pada Nya.
Semoga engkau telah mendekap surga
Sebagaimana doa dan rindu yang tak henti
Kukecupkan untuk mu

05 April 2013-05 April 2016
Anakmu yang selalu menyesal tak pernah membahagiakanmu