Semester akhir kuliah, saya mengalami susah tidur alias
insomnia. Saya baru bisa tidur biasanya sehabis solah subut dan harus berangkat
ke kampus jam 7. Berbulan-bulan saya mengalami itu, tanpa pernah cerita sama
siapa pun. Pada akhirnya saya pun drop, tapi beruntunglah karena itu terjadi
pada saat libur kuliah. Berhari-hari saya terkungkung di kamar kos tanpa bisa
berbuat apapun. Kepala saya sakit, sakit sekali sehingga untuk bergerak pun
perlu perjuangan. Untuk ke kamar mandi pun saya harus merangkak. Saya tidak
bisa menghubungi siapapun karena pulsa saya saat itu benar-benar habis. Tapi
naluri seorang ibu memang tidak bisa dibatasi oleh jarak ataupun waktu. Sehabis
subuh Mamah nelp dan mendengar saya nangis karena sakit yang tidak bisa
ditahan, meskipun menyembunyikan kepanikannya saya tahu Mamah khawatir. Saat
itu juga Mamah langsung berangkat ke Bandung dari Tasik, jam 9 Mamah sudah
berada di kos. Melihat saya berhari-hari tidak makan, Mamah langsung menyuapi
saya dengan bubur ayam yang dibelinya di Gerlong. Mamah mulai ngomel seperti
kebanyakan ibu-ibu lainnya karena melihat kondisi saya yang begitu.
"Kenapa ga nelp Aki?" lah gimana mau nelp saya sama sekali tidak
punya pulsa. Selesai makan saya langsung dibawa ke klinik An-Nur di Setiabudi
untuk kemudian dibawa pulang ke Tasik.
Di Tasik Mamah membawa saya ke dokter langganannya. Dan saya
dirujuk ke dokter spesialis saraf. Mamah tetap mendampingi saya bolak-balik ke
dokter. Dokter bilang ada "sesuatu" di alam bawah sadar. Entahlah,
saya tidak merasa apapun terjadi pada saya.
Berhari-hari saya cuma bisa tiduran di tempat tidur dengan
posisi tengkurap karena apabila saya tidur seperti orang normal kepala saya
tambah sakit. Keluarga, teman-teman bahkan guru-guru SD mulai datang untuk
menjenguk. Dan Mamah disela-sela kesibukannya pulang dari pasar, harus masak
untuk jualan tetap mengurus saya. Menyeka saya dengan air hangat, menyuapi saya
makan bahkan menggendong saya ke kamar mandi. Tidak pernah saya mendengar Mamah
mengeluh karena mengurus saya.
Berangsur-angsur kondisi saya membaik meskipun saya tetap
kesulitan untuk tidur. Mamah mengantar kembali saya ke Bandung karena
perkuliahan akan segera mulai.
Kalau ingat peristiwa itu saya sangat malu dan sedih. Karena
sampai akhirnya Mamah "kembali" saya belum sempat mengurus Mamah.
Bahkan detik-detik terakhirnya di dunia pun saya tidak ikut memandikannya.
Tiga tahun sudah Mamah pergi, tepat di tanggal ini tanggal
yang tidak mungkin saya lupakan. Tanggal dimana hari itu bumi runtuh, dan
segala pertahanan saya pun runtuh. Apa yang saya lakukan semata hanya untuk
membuat Mamah bahagia, tapi ketika Mamah pergi saya tidak punya alasan lagi
untuk bertahan. Tapi kenyataannya saya masih bertahan entah untuk tujuan apa.
Masih banyak sesal, masih banyak keinginan yang belum saya
berikan untuk Mamah. Belum berhasil menorehkan senyum di wajahnya. Belum
mengembalikan pendar mata yang lebih banyak diselimuti warna abu.
Mamah, yang tak pernah mengenal lelah untuk selalu
membahagiakan orang lain meskipun dirinya harus kehilangan daging-daging
ditubuhnya. Mamah yang tidak pernah meminta apapun tapi selalu meminta untuk
orang lain. Mamah, yang punggungnya
tidak bisa saya lepaskan dari pandangan ketika Cipaganti membawanya
berlalu.Mamah, pagi itu kita masih berbincang sebelum Mamah memutuskan telp
karena harus membersihkan pemakaman keluarga.
Semesta telah membawa mu kembali pada Nya.
Semoga engkau telah mendekap surga
Sebagaimana doa dan rindu yang tak henti
Kukecupkan untuk mu
05 April 2013-05 April 2016
Anakmu yang selalu menyesal tak pernah membahagiakanmu