Senin, 21 Desember 2015

Fragmen Ingatan

Ketika semua orang mengingat ibu lewat status yang bertebaran di berbagai timeline media social. Lalu apa yang saya ingat dari ibu, dari Mamah. Mamah adalah perempuan yang melahirkan saya tentu saja. Mamah adalah sosok yang menyenangkan, mengajari tanpa saya merasa lagi diajari, selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan saya, sering mengajari saya menyanyi dan mendorong saya untuk berani tampil di depan umum. Mamah dan saya selalu bersama kemana-mana. Sampai ketika saya ingin mempunyai seorang adik laki-laki dan sudah takdir Tuhan saya harus berbahagia ketika adik perempuan lah yang saya dapat. Sebagai seorang bocah umur lima tahun saya tentu kecewa karena saya tidak mendaptkan apa yang saya harapkan. Perhatian mamah selalu tertuju pada adik saya, apalagi adik saya ririwit (sering sakit –bahasa sunda). Keluar masuk rumah sakit sudah hal yang biasa, di opname berhari-hari, di icu dengan segala jenis perlatan yang menempel di tubuhnya membuat mamah sedikit melupakanku. Sampai akhirnya tiba saat itu dimana saya menyaksikan sesuatu hal paling buruk dalam hidup saya, saya melihat mamah begitu kuat dan dalam hati saya berjanji akan membahagiakan mamah membuat beliau aman dan tersenyum.

Kami kehilangan bapa ketika saya belum lama masuk sekolah dasar. Dan karena alasan tertentu kami pun pindah ke kampung halamannya mamah, numpang di rumah tante adiknya mamah. Sampai mamah menunggu pembeli motor vespa birunya, kami hidup dari sisa-sisa tabungan mamah. Akhirnya mamah bisa buka warung kecil-kecilan dari modal penjualan vespa kesayangan kami. Beruntung karena Mih nenek saya sudah punya warung yang strategis di pinggir jalan raya sehingga mamah pun dikasih space supaya bisa berjualan disitu bersebelahan dengan Mih yang memang sudah berjualan nasi. Kami pun pindah ke rumah Mih karena lebih dekat dengan warung. Saya bahagia tinggal bersama Mih karena Mih begitu banyak mengajarkan banyak hal pada saya. Mih bahkan selalu menemani saya nonton bola tengah malam. Mih juga perempuan yang sangat luar biasa, tangguh dan mandiri.
Kehidupan kami yang baru membuat saya harus banyak-banyak tahu diri. Meskipun dalam hati, saya ingin seperti teman-teman sebaya saya. Saya harus berjuang untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Termasuk perangko untuk berkirim surat ke sahabat-sahabat pena saya. Selain uang sekolah mamah hanya menjatah saya majalah bobo, kalau saya ingin lebih dari itu saya harus menabung dari uang jajan saya. Saya pun membantu Mamah jualan dengan membawa sebagian dagangan Mamah ke sekolah agama. Saya jualan makanan-makanan ringan, makaroni pedas  yang dibuat mamah sendiri dan es teh manis. Setiap habis jualan saya dikasih upah sama Mamah, nah dari upah itu lah saya banyak menabung untuk membeli sesuatu yang saya inginkan termasuk kaset Westlife. Alhamdulillah juga selama saya sekolah saya selalu mendapat beasiswa.
Siapa yang tidak sedih ketika teman-teman saya ditemani ikut lomba ini itu saya harus bahagia dengan datang ditemani diri sendiri. Saya selalu mendapatkan raport saya paling akhir karena Mamah tidak ada waktu untuk mengambil raport saya. Saya selalu berbicara dalam hati saya “mamah melakukan itu semua buat saya dan adik saya,agar kami bisa tetap sekolah”. Ada yang membuat saya sedih ketika saya memenangkan suatu lomba se kota waktu itu tidak juara 1 tapi juara 3 dan itu membuat saya diundang ke peringatan hari pendidikan nasional di kantor walikota. Lagi-lagi saya hanya harus bahagia ketika mamah saya ga bisa ikut mendampingi saya ketika nama beliau disebut pun saya dengan keukeuhnya berdiri seorang diri. Saya tahu apa yang saya dapat adalah dari doa Mamah yang tidak pernah kering.
Jujur saya tidak pernah merasa dekat dengan mamah, kami jarang mengobrol tentang banyak hal. Sesuatu yang sangat saya rindukan, sesuatu dari masa ketika saya dan mamah selalu bersama. Mamah lebih banyak memikirkan adik saya. Mungkin saya dikira sudah besar sudah dewasa jadi mamah tidak perlu mengeluarkan tenaga dan pikiran ekstra buat saya. Kata Mamah saya sudah pernah hidup enak, sedangkan adik saya tidak pernah merasakan hidup enak bahkan ingatannya aja belum ada untuk mengenal bapa.
Sampai ketika saya baru beberapa bulan tinggal di Bandung karena kuliah, Mih meninggalkan saya, meninggalkan kami selamanya. Ketika saya tiba di rumah, Mamah memeluk saya dengan tangis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya sampai tidak sempat mengeluarkan air mata karena saya sibuk menenangkan Mamah. Saya tahu Mamah kehilangan orang yang paling beliau sayang begitupun saya, saya kehilangan orang menurut saya paling menyayangi saya di dunia ini. Tanggung jawab mamah pun bertambah tidak hanya soal kami lagi, saya dan adik saya tapi juga adik-adik Mamah pun sekarang jadi tanggung jawab Mamah. Kehilangan Mih ternyata membuat hubungan saya dan Mamah semakin dekat, kami mulai sering berbincang baik melalui telpon ataupun ketika saya pulang kami selalu tidur bersama, bernincang tentang banyak hal sampai kami tidak sadar kami sudah terlelap. Bahkan Mamah mulai membelikan aku baju diluar hari lebaran. Aku bahagia  tentunya karena aku tak perlu menyisihkan uang untuk membeli baju baru.
Di sela-sela waktu kuliah, saya memberikan les sekedar menambah uang foto copy materi kuliah atau membeli buku di Palasari. Ketika dinyatakan lulus, saya pun tidak ada keinginan untuk meneruskan pendidikan saya kembali karena saya tahu Mamah saya tidak akan sanggup untuk biayanya. Saya memutuskan untuk bekerja dan Alhamdulillah sebelum saya wisuda saya sudah mempunyai penghasilan sendiri. Setelah setahun saya bekerja di perusahaan swasta saya semakin sering diminta untuk bekerja jadi pns atau di perusahaan yang tetap digaji meskipun sudah pensiun. Kata Mamah biar Mamah tenang, biar tidak mengulang apa yang menimpa Mamah. Karena walau bagaimanapun saya saying sama Mamah saya ingin setidaknya memberikan kebahagiaan dengan menuruti apa yang Mamah inginkan. Saya pun mulai mencari info-info lowongan pekerjaan dan hanya dua yang saya masukin lamarannya ke tempat saya bekerja saat ini dan deplu. Keinginan mamah pun tercapai dan mamah harus berpisah dengan anak sulungnya.
Saya pernah mengalami masa-masa sulit ketika awal-awal saya tinggal di Mataram. Tidak sedikit airmata yang saya bagikan dengan Mamah. Tapi Mamah selalu berhasil kembali meyakinkan saya. Mamah selalu kembali menjadi alasan untuk saya tetap bernapas dan bekerja. Dua tahun tinggal disini akhirnya Mamah mau juga saya ajak untuk tinggal disini. Mamah mau juga setelah sering saya bujuk agar mau datang kesini. Sebenarnya saya ingin Mamah tinggal bersama saya, biar Mamah tidak usah jualan lagi, tidak usah capek lagi, tidak usah mikirin orang lain terus. Saya ingin Mamah menikmati hidupnya. Tapi baru tinggal seminggu disini Mamah udah merengek-rengek minta pulang, tidak betah katanya ditambah panas disini. Saya mengerti sebenarnya Mamah bosan tinggal sama saya. Biasa bangun jam tiga pagi untuk memasak yang akan dijual dan baru bisa istirahat minimal jam sembilan malam. Di bulan Desember itu saya pun mengantar Mamah pulang di Soekarno - Hatta kami berpisah. Saya harus ke Kantor Pusat dan saya hanya bisa mengantar Mamah sampai pintu travel. Saya masih melihat punggungnya di dalam mobil cipaganti yang akan membawanya pulang ke Bandung.
Itulah pertemuan terakhir saya dengan Mamah, bahkan sebelum jasadnya kembali ke tanah pun saya tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Mamah yang ada di ingatan adalah perempuan yang ingin saya bahagiakan, yang paling ingin saya lihat senyumnya. Tapi Tuhan nampaknya tidak mau menunggu saya mewujudkan itu, Dia ingin melakukannya sendiri. Sesal yang tertinggal kini. Doa yang masih bisa dilakukan mengirmkan rindu yang tak pernah selesai,sekarang, esok, nanti dan selamanya.
Di hari ibu dimana euphoria begitu terasa, untuk dua perempuan hebat yang pernah menggendong aku mengantar aku ke sekolah agam karena aku telat bangun dari tidur siang, untuk dua perempuan kuat dan mandiri yang  belum sempat aku mengukir bangga didadanya.