Ketika semua orang mengingat ibu
lewat status yang bertebaran di berbagai timeline media social. Lalu apa yang
saya ingat dari ibu, dari Mamah. Mamah adalah perempuan yang melahirkan saya
tentu saja. Mamah adalah sosok yang menyenangkan, mengajari tanpa saya merasa
lagi diajari, selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan saya, sering
mengajari saya menyanyi dan mendorong saya untuk berani tampil di depan umum. Mamah
dan saya selalu bersama kemana-mana. Sampai ketika saya ingin mempunyai seorang
adik laki-laki dan sudah takdir Tuhan saya harus berbahagia ketika adik
perempuan lah yang saya dapat. Sebagai seorang bocah umur lima tahun saya tentu
kecewa karena saya tidak mendaptkan apa yang saya harapkan. Perhatian mamah
selalu tertuju pada adik saya, apalagi adik saya ririwit (sering sakit –bahasa sunda).
Keluar masuk rumah sakit sudah hal yang biasa, di opname berhari-hari, di icu
dengan segala jenis perlatan yang menempel di tubuhnya membuat mamah sedikit
melupakanku. Sampai akhirnya tiba saat itu dimana saya menyaksikan sesuatu hal
paling buruk dalam hidup saya, saya melihat mamah begitu kuat dan dalam hati
saya berjanji akan membahagiakan mamah membuat beliau aman dan tersenyum.
Kami kehilangan bapa ketika saya
belum lama masuk sekolah dasar. Dan karena alasan tertentu kami pun pindah ke kampung
halamannya mamah, numpang di rumah tante adiknya mamah. Sampai mamah menunggu
pembeli motor vespa birunya, kami hidup dari sisa-sisa tabungan mamah. Akhirnya
mamah bisa buka warung kecil-kecilan dari modal penjualan vespa kesayangan
kami. Beruntung karena Mih nenek saya sudah punya warung yang strategis di
pinggir jalan raya sehingga mamah pun dikasih space supaya bisa berjualan disitu bersebelahan dengan Mih yang
memang sudah berjualan nasi. Kami pun pindah ke rumah Mih karena lebih dekat
dengan warung. Saya bahagia tinggal bersama Mih karena Mih begitu banyak
mengajarkan banyak hal pada saya. Mih bahkan selalu menemani saya nonton bola
tengah malam. Mih juga perempuan yang sangat luar biasa, tangguh dan mandiri.
Kehidupan kami yang baru membuat
saya harus banyak-banyak tahu diri. Meskipun dalam hati, saya ingin seperti
teman-teman sebaya saya. Saya harus berjuang untuk mendapatkan apa yang saya
inginkan. Termasuk perangko untuk berkirim surat ke sahabat-sahabat pena saya. Selain
uang sekolah mamah hanya menjatah saya majalah bobo, kalau saya ingin lebih
dari itu saya harus menabung dari uang jajan saya. Saya pun membantu Mamah
jualan dengan membawa sebagian dagangan Mamah ke sekolah agama. Saya jualan
makanan-makanan ringan, makaroni pedas yang dibuat mamah sendiri dan es teh manis. Setiap
habis jualan saya dikasih upah sama Mamah, nah dari upah itu lah saya banyak
menabung untuk membeli sesuatu yang saya inginkan termasuk kaset Westlife. Alhamdulillah
juga selama saya sekolah saya selalu mendapat beasiswa.
Siapa yang tidak sedih ketika
teman-teman saya ditemani ikut lomba ini itu saya harus bahagia dengan datang ditemani
diri sendiri. Saya selalu mendapatkan raport saya paling akhir karena Mamah
tidak ada waktu untuk mengambil raport saya. Saya selalu berbicara dalam hati
saya “mamah melakukan itu semua buat saya dan adik saya,agar kami bisa tetap
sekolah”. Ada yang membuat saya sedih ketika saya memenangkan suatu lomba se
kota waktu itu tidak juara 1 tapi juara 3 dan itu membuat saya diundang ke
peringatan hari pendidikan nasional di kantor walikota. Lagi-lagi saya hanya
harus bahagia ketika mamah saya ga bisa ikut mendampingi saya ketika nama
beliau disebut pun saya dengan keukeuhnya berdiri seorang diri. Saya tahu apa yang
saya dapat adalah dari doa Mamah yang tidak pernah kering.
Jujur saya tidak pernah merasa
dekat dengan mamah, kami jarang mengobrol tentang banyak hal. Sesuatu yang
sangat saya rindukan, sesuatu dari masa ketika saya dan mamah selalu bersama. Mamah
lebih banyak memikirkan adik saya. Mungkin saya dikira sudah besar sudah dewasa
jadi mamah tidak perlu mengeluarkan tenaga dan pikiran ekstra buat saya. Kata Mamah
saya sudah pernah hidup enak, sedangkan adik saya tidak pernah merasakan hidup
enak bahkan ingatannya aja belum ada untuk mengenal bapa.
Sampai ketika saya baru beberapa
bulan tinggal di Bandung karena kuliah, Mih meninggalkan saya, meninggalkan
kami selamanya. Ketika saya tiba di rumah, Mamah memeluk saya dengan tangis
yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya sampai tidak sempat mengeluarkan
air mata karena saya sibuk menenangkan Mamah. Saya tahu Mamah kehilangan orang
yang paling beliau sayang begitupun saya, saya kehilangan orang menurut saya
paling menyayangi saya di dunia ini. Tanggung jawab mamah pun bertambah tidak
hanya soal kami lagi, saya dan adik saya tapi juga adik-adik Mamah pun sekarang
jadi tanggung jawab Mamah. Kehilangan Mih ternyata membuat hubungan saya dan Mamah
semakin dekat, kami mulai sering berbincang baik melalui telpon ataupun ketika
saya pulang kami selalu tidur bersama, bernincang tentang banyak hal sampai
kami tidak sadar kami sudah terlelap. Bahkan Mamah mulai membelikan aku baju
diluar hari lebaran. Aku bahagia tentunya
karena aku tak perlu menyisihkan uang untuk membeli baju baru.
Di sela-sela waktu kuliah, saya memberikan
les sekedar menambah uang foto copy materi kuliah atau membeli buku di Palasari.
Ketika dinyatakan lulus, saya pun tidak ada keinginan untuk meneruskan
pendidikan saya kembali karena saya tahu Mamah saya tidak akan sanggup untuk
biayanya. Saya memutuskan untuk bekerja dan Alhamdulillah sebelum saya wisuda
saya sudah mempunyai penghasilan sendiri. Setelah setahun saya bekerja di
perusahaan swasta saya semakin sering diminta untuk bekerja jadi pns atau di perusahaan
yang tetap digaji meskipun sudah pensiun. Kata Mamah biar Mamah tenang, biar
tidak mengulang apa yang menimpa Mamah. Karena walau bagaimanapun saya saying sama
Mamah saya ingin setidaknya memberikan kebahagiaan dengan menuruti apa yang
Mamah inginkan. Saya pun mulai mencari info-info lowongan pekerjaan dan hanya
dua yang saya masukin lamarannya ke tempat saya bekerja saat ini dan deplu. Keinginan
mamah pun tercapai dan mamah harus berpisah dengan anak sulungnya.
Saya pernah mengalami masa-masa
sulit ketika awal-awal saya tinggal di Mataram. Tidak sedikit airmata yang saya
bagikan dengan Mamah. Tapi Mamah selalu berhasil kembali meyakinkan saya. Mamah
selalu kembali menjadi alasan untuk saya tetap bernapas dan bekerja. Dua tahun
tinggal disini akhirnya Mamah mau juga saya ajak untuk tinggal disini. Mamah mau
juga setelah sering saya bujuk agar mau datang kesini. Sebenarnya saya ingin Mamah
tinggal bersama saya, biar Mamah tidak usah jualan lagi, tidak usah capek lagi,
tidak usah mikirin orang lain terus. Saya ingin Mamah menikmati hidupnya. Tapi baru
tinggal seminggu disini Mamah udah merengek-rengek minta pulang, tidak betah
katanya ditambah panas disini. Saya mengerti sebenarnya Mamah bosan tinggal
sama saya. Biasa bangun jam tiga pagi untuk memasak yang akan dijual dan baru
bisa istirahat minimal jam sembilan malam. Di bulan Desember itu saya pun
mengantar Mamah pulang di Soekarno - Hatta kami berpisah. Saya harus ke Kantor
Pusat dan saya hanya bisa mengantar Mamah sampai pintu travel. Saya masih
melihat punggungnya di dalam mobil cipaganti yang akan membawanya pulang ke Bandung.
Itulah pertemuan terakhir saya
dengan Mamah, bahkan sebelum jasadnya kembali ke tanah pun saya tidak bisa
melihatnya untuk terakhir kali. Mamah yang ada di ingatan adalah perempuan yang
ingin saya bahagiakan, yang paling ingin saya lihat senyumnya. Tapi Tuhan
nampaknya tidak mau menunggu saya mewujudkan itu, Dia ingin melakukannya
sendiri. Sesal yang tertinggal kini. Doa yang masih bisa dilakukan mengirmkan
rindu yang tak pernah selesai,sekarang, esok, nanti dan selamanya.
Di hari ibu dimana euphoria begitu
terasa, untuk dua perempuan hebat yang pernah menggendong aku mengantar aku ke
sekolah agam karena aku telat bangun dari tidur siang, untuk dua perempuan kuat
dan mandiri yang belum sempat aku
mengukir bangga didadanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar